IDEALISME dan FILSAFAT PENDIDIKAN
Aliran
filsafat idealisme terbukti cukup banyak memperhatikan masalah-masalah
pendidikan, sehingga cukup berpengaruh terhadap pemikiran dan praktik
pendidikan. William T. Harris adalah tokoh aliran pendidikan idealisme
yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat. Bahkan, jumlah tokoh filosof
Amerika kontemporer tidak sebanyak seperti tokoh-tokoh idealisme yang
seangkatan dengan Herman Harrell Horne (1874-1946). Herman Harrell Horne
adalah filosof yang mengajar filsafat beraliran idealisme lebih dari 33
tahun di Universitas New York.
Belakangan,
muncul pula Michael Demiashkevitch, yang menulis tentang idealisme
dalam pendidikan dengan efek khusus. Demikian pula B.B. Bogoslovski, dan
William E. Hocking. Kemudian muncul pula Rupert C. Lodge (1888-1961),
profesor di bidang logika dan sejarah filsafat di Universitas Maitoba.
Dua bukunya yang mencerminkan kecemerlangan pemikiran Rupert dalam
filsafat pendidikan adalah Philosophy of Education dan studi
mengenai pemikirian Plato di bidang teori pendidikan. Di Italia,
Giovanni Gentile Menteri bidang Instruksi Publik pada Kabinet Mussolini
pertama, keluar dari reformasi pendidikan karena berpegang pada
prinsip-prinsip filsafat idealisme sebagai perlawanan terhadap dua
aliran yang hidup di negara itu sebelumnya, yaitu positivisme dan
naturalisme.
Idealisme sangat concern tentang
keberadaan sekolah. Aliran inilah satu-satunya yang melakukan oposisi
secara fundamental terhadap naturalisme. Pendidikan harus terus eksis
sebagai lembaga untuk proses pemasyarakatan manusia sebagai kebutuhan
spiritual, dan tidak sekadar kebutuhan alam semata. Gerakan filsafat
idealisme pada abad ke-19 secara khusus mengajarkan tentang kebudayaan
manusia dan lembaga kemanuisaan sebagai ekspresi realitas spiritual.
Secara
filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa yang
terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat
serta pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang
melembaga di dalam masyarakatnya. Dengan demikian, muncullah filsafat
pendidikan yang menjadi dasar bagaimana suatu bangsa itu berpikir,
berperasaan, dan berkelakuan yang menentukan bentuk sikap hidupnya.
Adapun proses pendidikan dilakukan secara terus menerus dilakukan dari
generasi ke generasi secara sadar dan penuh keinsafan.
Sejak
idealisme sebagai paham filsafat pendidikan menjadi keyakinan bahwa
realitas adalah pribadi, maka mulai saat itu dipahami tentang perlunya
pengajaran secara individual. Pola pendidikan yang diajarkan fisafat
idealisme berpusat dari idealisme. Pengajaran tidak sepenuhnya berpusat
dari anak, atau materi pelajaran, juga bukan masyarakat, melainkan
berpusat pada idealisme. Maka, tujuan pendidikan menurut paham idealisme
terbagai atas tiga hal, tujuan untuk individual, tujuan untuk
masyarakat, dan campuran antara keduanya.
Para
murid yang menikmati pendidikan di masa aliran idealisme sedang
gencar-gencarnya diajarkan, memperoleh pendidikan dengan mendapatkan
pendekatan (approach) secara khusus. Sebab, pendekatan dipandang
sebagai cara yang sangat penting. Giovanni Gentile pernah mengemukakan,
“Para guru tidak boleh berhenti hanya di tengah pengkelasan murid, atau
tidak mengawasi satu persatu muridnya atau tingkah lakunya. Seorang guru
mesti masuk ke dalam pemikiran terdalam dari anak didik, sehingga kalau
perlu ia berkumpul hidup bersama para anak didik. Guru jangan hanya
membaca beberapa kali spontanitas anak yang muncul atau sekadar ledakan
kecil yang tidak banyak bermakna.
Bagi
aliran idealisme, anak didik merupakan seorang pribadi tersendiri,
sebagai makhluk spiritual. Mereka yang menganut paham idealisme
senantiasa memperlihatkan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan
ekspresi dari keyakinannya, sebagai pusat utama pengalaman pribadinya
sebagai makhluk spiritual. Tentu saja, model pemikiran filsafat
idealisme ini dapat dengan mudah ditransfer ke dalam sistem pengajaran
dalam kelas. Guru yang menganut paham idealisme biasanya berkeyakinan
bahwa spiritual merupakan suatu kenyataan, mereka tidak melihat murid
sebagai apa adanya, tanpa adanya spiritual.
Pendidikan
idealisme untuk individual antara lain bertujuan agar anak didik bisa
menjadi kaya dan memiliki kehidupan yang bermakna, memiliki kepribadian
yang harmonis dan penuh warna, hidup bahagia, mampu menahan berbagai
tekanan hidup, dan pada akhirnya diharapkan mampu membantu individu
lainnya untuk hidup lebih baik. Sedangkan tujuan pendidikan idealisme
bagi kehidupan sosial adalah perlunya persaudaraan sesama manusia.
Karena dalam spirit persaudaraan terkandung suatu pendekatan seseorang
kepada yang lain. Seseorang tidak sekadar menuntuk hak pribadinya, namun
hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya terbingkai dalam
hubungan kemanusiaan yang saling penuh pengertian dan rasa saling
menyayangi. Sedangkan tujuan secara sintesis dimaksudkan sebagai
gabungan antara tujuan individual dengan sosial sekaligus, yang juga
terekspresikan dalam kehidupan yang berkaitan dengan Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar