Selasa, 27 Januari 2015

Dimensi Aksiologi Dalam Filsafat Pendidikan

Dimensi Aksiologi Dalam Filsafat Pendidikan
 
Aksiologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang orientasi atau nilai suatu kehidupan. Aksiologi disebut juga teori nilai, karena ia dapat menjadi sarana orientasi manusia dalam usaha menjawab suatu pertanyaan yang amat fundamental, yakni bagaimana manusia harus hidup dan bertindak ?
Dalam Kamus Filsafat (Sudarsono, 1993: 8), aksiologi berarti suatu ajaran tentang kebenaran hakiki yang menjadi tujuan hidup manusia, misal ajaran agama. Atau dapat juga berarti :
1) Ajaran tentang nilai-nilai dan sistem
2) Nilai dalam ilmu filsafat
3) Cabang filsafat yang membuat tentang nilai
4) Filsafat nilai
Menurut Kattsoff (2004: 319) aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Barneld juga menjelaskan bahwa aksiologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki tentang nilai-nilai, menjelaskan berdasarkan kriteria atau prinsip tertentu apa yang dianggap baik di dalam tingkah laku manusia.
Dalam filsafat, aksiologi merupakan salah satu bidang kajian. Inu Kencana Syafiie (2004: 9-11) mengemukakan bahwa pembicaraan mengenai filsafat, secara garis besar dapat dilakukan melalui tiga tataran, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi menelaah tentang hakikat suatu objek, epistemologi mengkaji tentang prosedur perolehan kebenaran, dan aksiologi membahas tentang arah penggunaan pengetahuan.
Berkaitan dengan bidang pendidikan, Hasan Langgulung ( 1979:39) mengemukakan bahwa untuk membina falsafah pendidikan yang sebaik-baiknya diperlukan kajian yang mendalam mengenai falsafah wujud, falsafah pengetahuan, dan falsafah nilai-nilai.
Muhaimin (2003:18) juga menjelaskan bahwa ada tiga persoalan pokok dalam pembahasan filsafat pendidikan, yaitu :
A. Pandangan mengenai realita yang dipelajari oleh ontologi
Permasalahan ontologi menyangkut beberapa hal, yaitu:
1) Apa saja potensi yang dimiliki manusia?
2) Samakah makna potensi dan fitrah yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan Hadits?
3) Potensi dan atau fitrah manakah yang mendapatkan prioritas untuk dikembangkan dalam pendidikan?
4) Apakah potensi dan atau fitrah tersebut merupakan pembawan yang tidak akan berubah ataukah berkembang karena pengaruh lingkungan?
B. Pandangan mengenai pengetahuan yang dipelajari oleh epistemologi, meliputi beberapa persoalan, antara lain:
1) Apa saja kurikulum yang diberikan?
2) Metode apa yang digunakan?
3) Siapa yang berhak mendidik dan dididik?
4) Hanya manusiakah atau semua yang ada di alam semesta yang berhak mendidik?
C. Pandangan mengenai nilai yang dipelajari oleh aksiologi, mencakup beberapa permasalahan
1) Untuk apa potensi dan atau fitrah manusia dikembangkan?
2) Untuk apa pendidikan mewariskan budaya dari generasi ke generasi berikutnya?
3) Kemanakah arah pengembangan potensi dan atau fitrah manusia serta pewarisan budaya tersebut?
4) Apa tujuan pendidikan itu sendiri?
Menurut Redja Mudyahardjo (2004:3), filsafat pendidikan bukanlah filsafat umum atau filsafat murni, tetapi filsafat khusus atau filsafat terapan. Obyek filsafat umum merupakan keseluruhan segala sesuatu sedangkan objek filsafat khusus adalah salah satu aspek kehidupan manusia yang penting, termasuk di dalamnya yaitu pendidikan.
Ali Syaifullah (Jalaluddin dan Abdullah Idi, 2007:33) juga menuturkan bahwa filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi mengarahkan pusat perhatiannya dan memusatkan kegiatannya pada dua fungsi tugas normatif;
1) Kegiatan merumuskan dasar-dasar dan tujuan-tujuan pendidikan, konsep tentang sifat hakiki manusia serta konsepsi hakikat dan segi-segi pendidikan serta isi moral pendidikannya.
2) Kegiatan merumuskan sistem atau teori pendidikan (science of education) yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan.
5) Apakah semua manusia ataukah hanya manusia muslim saja yang berhak memperoleh pendidikan?
Pendidikan, atau organisasi pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat dan negara. Telaah aksiologi dalam pendidikan merupakan salah satu kegiatan filsafat dalam rangka merumuskan isi moral dalam pendidikan. Hal ini terkait dengan penentuan tujuan ataupun orientasi pelaksanaan pendidikan yang jelas dan terarah. Tujuan pendidikan adalah titik awal sebuah proses pendidikan sekaligus memberi gambaran akan hasil yang diinginkan. Merumuskan tujuan pendidikan merupakan kegiatan pokok dalam upaya meraih sebuah keberhasilan dalam pendidikan. Hal yang tak terlepas dalam tujuan pendidikan yaitu nilai-nilai pendidikan yang akan diwujudkan dalam pribadi peserta didik.
Muhammad Noor Syam (Jalaluddin dan Abdullah Idi, 2007: 138) mengemukakan bahwa pendidikan secara praktis tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai yang terangkum dalam tujuan pendidikan. Pendidikan bertugas menguji dan mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan manusia dan membinanya dalam kepribadian anak (Muhammad Noor syam, 1987: 35). Tujuan pendidikan tidak akan dapat ditetapkan tanpa pengetahuan yang tepat mengenai nilai-nilai. Oleh karena itu, penting adanya pembahasan tentang nilai-nilai pendidikan. Pembahasan tersebut akan lebih mendalam melalui pendekatan filosofi melalui kajian aksiologi sesuai dengan objek yang dikaji yaitu mengenai nilai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar