Dimensi Aksiologi Dalam Filsafat Pendidikan
Aksiologi
adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang orientasi atau nilai suatu
kehidupan. Aksiologi disebut juga teori nilai, karena ia dapat menjadi sarana
orientasi manusia dalam usaha menjawab suatu pertanyaan yang amat fundamental,
yakni bagaimana manusia harus hidup dan bertindak ?
Dalam Kamus
Filsafat (Sudarsono, 1993: 8), aksiologi berarti suatu ajaran tentang kebenaran
hakiki yang menjadi tujuan hidup manusia, misal ajaran agama. Atau dapat juga
berarti :
1) Ajaran
tentang nilai-nilai dan sistem
2) Nilai dalam
ilmu filsafat
3) Cabang
filsafat yang membuat tentang nilai
Menurut
Kattsoff (2004: 319) aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat
nilai yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Barneld juga
menjelaskan bahwa aksiologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki tentang
nilai-nilai, menjelaskan berdasarkan kriteria atau prinsip tertentu apa yang dianggap
baik di dalam tingkah laku manusia.
Dalam filsafat,
aksiologi merupakan salah satu bidang kajian. Inu Kencana Syafiie (2004: 9-11)
mengemukakan bahwa pembicaraan mengenai filsafat, secara garis besar dapat
dilakukan melalui tiga tataran, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Ontologi menelaah tentang hakikat suatu objek, epistemologi mengkaji tentang
prosedur perolehan kebenaran, dan aksiologi membahas tentang arah penggunaan
pengetahuan.
Berkaitan
dengan bidang pendidikan, Hasan Langgulung ( 1979:39) mengemukakan bahwa untuk
membina falsafah pendidikan yang sebaik-baiknya diperlukan kajian yang mendalam
mengenai falsafah wujud, falsafah pengetahuan, dan falsafah nilai-nilai.
Muhaimin (2003:18)
juga menjelaskan bahwa ada tiga persoalan pokok dalam pembahasan filsafat
pendidikan, yaitu :
A. Pandangan mengenai realita yang dipelajari oleh ontologi
Permasalahan
ontologi menyangkut beberapa hal, yaitu:
1) Apa saja potensi yang dimiliki manusia?
2) Samakah makna potensi dan fitrah yang dijelaskan dalam Al Qur’an
dan Hadits?
3) Potensi dan atau fitrah manakah yang mendapatkan prioritas untuk
dikembangkan dalam pendidikan?
4) Apakah potensi dan atau fitrah tersebut merupakan pembawan yang
tidak akan berubah ataukah berkembang karena pengaruh lingkungan?
B. Pandangan mengenai pengetahuan yang dipelajari oleh epistemologi,
meliputi beberapa persoalan, antara lain:
1) Apa saja
kurikulum yang diberikan?
2) Metode apa
yang digunakan?
3) Siapa yang
berhak mendidik dan dididik?
4) Hanya
manusiakah atau semua yang ada di alam semesta yang berhak mendidik?
C. Pandangan mengenai nilai yang dipelajari oleh aksiologi, mencakup
beberapa permasalahan
1) Untuk apa potensi dan atau fitrah manusia dikembangkan?
2) Untuk apa pendidikan mewariskan budaya dari generasi ke generasi
berikutnya?
3) Kemanakah arah pengembangan potensi dan atau fitrah manusia
serta pewarisan budaya tersebut?
4) Apa tujuan pendidikan itu sendiri?
Menurut Redja
Mudyahardjo (2004:3), filsafat pendidikan bukanlah filsafat umum atau filsafat
murni, tetapi filsafat khusus atau filsafat terapan. Obyek filsafat umum
merupakan keseluruhan segala sesuatu sedangkan objek filsafat khusus adalah
salah satu aspek kehidupan manusia yang penting, termasuk di dalamnya yaitu pendidikan.
Ali Syaifullah
(Jalaluddin dan Abdullah Idi, 2007:33) juga menuturkan bahwa filsafat
pendidikan sebagai suatu lapangan studi mengarahkan pusat perhatiannya dan
memusatkan kegiatannya pada dua fungsi tugas normatif;
1) Kegiatan merumuskan dasar-dasar dan tujuan-tujuan pendidikan,
konsep tentang sifat hakiki manusia serta konsepsi hakikat dan segi-segi
pendidikan serta isi moral pendidikannya.
2) Kegiatan merumuskan sistem atau teori pendidikan (science of education)
yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan.
5) Apakah semua manusia ataukah hanya manusia muslim saja yang
berhak memperoleh pendidikan?
Pendidikan,
atau organisasi pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk
pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat dan
negara. Telaah aksiologi dalam pendidikan merupakan salah satu kegiatan
filsafat dalam rangka merumuskan isi moral dalam pendidikan. Hal ini terkait
dengan penentuan tujuan ataupun orientasi pelaksanaan pendidikan yang jelas dan
terarah. Tujuan pendidikan adalah titik awal sebuah proses pendidikan sekaligus
memberi gambaran akan hasil yang diinginkan. Merumuskan tujuan pendidikan
merupakan kegiatan pokok dalam upaya meraih sebuah keberhasilan dalam
pendidikan. Hal yang tak terlepas dalam tujuan pendidikan yaitu nilai-nilai
pendidikan yang akan diwujudkan dalam pribadi peserta didik.
Muhammad Noor
Syam (Jalaluddin dan Abdullah Idi, 2007: 138) mengemukakan bahwa pendidikan
secara praktis tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai yang terangkum dalam
tujuan pendidikan. Pendidikan bertugas menguji dan mengintegrasikan nilai-nilai
tersebut dalam kehidupan manusia dan membinanya dalam kepribadian anak
(Muhammad Noor syam, 1987: 35). Tujuan pendidikan tidak akan dapat ditetapkan
tanpa pengetahuan yang tepat mengenai nilai-nilai. Oleh karena itu, penting
adanya pembahasan tentang nilai-nilai pendidikan. Pembahasan tersebut akan lebih
mendalam melalui pendekatan filosofi melalui kajian aksiologi sesuai dengan
objek yang dikaji yaitu mengenai nilai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar